Gambar 2 :
Rangkaian setara T
Keterangan :
re : Hambatan isyrat
kecil untuk sambungan pn
rb : Hambatan
melintang dalam basis
rc : Hambatan isyarat kecil untuk
sambungan pn antara basis dan kolektor yang mendapat yang mendapat panjar
mundur.
αie : Suatu sumber arus tetap
b. Proses Kerja
Pada
rangkaian setara T karena merupakan rangkaian isyarat kecil maka rangkaian ini
merupakan suatu sumber ggl murni yang mempunyai tegangan tetap. Pada gambar
dapat dijelaskan bahwa (resistor kolektor)
rC = rE - rB. Sedangkan arus basis sebanding
dengan arus emitor, yaitu IC = aIE. Karena
basis dihubungkan dengan tanah maka parameter a mempunyai nilai
hampir sama dengan satu, yaitu :
a
= 0,99 - 0,998
c. Ciri Khas
- Grafik
Masukan
Berikut adalah Lengkung ciri statik transistor ditanahkan
Gambar 3 : Lengkung ciri
statik masukan transistor basis ditanahkan.
Pada ciri statik masukan transistor yang
perlu diperhatikan yaitu
perubahan VEB,
jika ΔVCB pada nilai arus IB (q), dan
adalah kemiringan lengkung ciri statik masukan
pada nilai VCB (q) dan IE (q).
- Grafik Keluaran
Ciri keluaran statik
menyatakan bagaimana arus kolektor iC berubah dengan VCB
untuk berbagai nilai arus statik dari emitor IE
Gambar
4 : Lengkung
ciri statik keluaran transistor basis ditanahkan
Pada ciri keluaran
transistor dengan hubungan basis ditanahkan perlu diperhatikan hal berikut :
a. iC
iE, karena iC = aiEA dan a
1. Hal ini juga berarti arus keluaran
iC berbanding lurus dengan arus masukan iE. Dikatakan
transistor dwikutub adalah suatu piranti yang dikendalikan oleh arus.
b. Ciri statik keluaran mempunyai kemiringan
amat kecil (sangat horizontal). Ini berarti hambatan keluaran transistor yang
merupakan kebalikan kemiringan ic(vCB) mempunyai nilai
amat besar yaitu sama dengan hambatan isyarat kecil dioda yang ada dalam
keadaan tegangan mundur, yaitu dioda sambungan kolektor basis.
d. Hambatan Masukan (Rit)
Gambar
5 : Menghitung hambatan masukkan
Pada
Gambar dapat dijelaskan bahwa Vi = re ie + rb ib, jika dipasang suatu sumber
tegangan (Vi) maka ii dapat dihitung melalui persamaan berikut ii
=
.
e. Hambatan Keluaran
Hambatan rangkaian
setara T mempunyai hambatan keluaran Rot ≅ rb + re ≅
rc, dengan rb (300 Ω) « rc (1 MΩ).
B. RANGKAIAN SETARA Z PADA COMMEN BASE
Untuk rangkaian setara
–z, pada masukan dan keluaran digunakan rangkaian Thevenin yang dimana
menggunakan sumber tegangan tetap, yakni suatu sumber tegangan ideal dengan
tegangan keluaran yang tidak berubah, berapapun besarnya arus yang diambil
darinya. seperti pada gambar berikut :
Gambar 6 : Rangkaian Setara –Z
Sumber
tegangan tetap ZeI0 menyatakan pengaruh keluaran terhadap
masukan. Degan
Vi = IiZi + I0Zr
V0 = I0Zf + I0Zr
Keterangan :
Zi : Impendansi masukan jika suku ke dua I0Zr nol, atau jika I0 = 0, atau
jika keluaran berada pada keadaaan terbuka. Parameter Zi di sebut impendansi masukan dank e;uaran
terbuka. ( I0 = 0 )
Zr :
Impendansi ahli mundur dengan msikan terbuka ( I0 = 0)
Zf :
Impendansi ahli maju dengan keluaran terbuka ( I0 = 0)
Z0 : Impendansi ahli keluaran dan masukan terbuka ( I0 =
0)
C. RANGKAIAN SETARA Y PADA COMMEN BASE
Pada rangkaian
setara –y, pada masukkan dan keluaran digunakan rangkaian Norton, yang dimana
Menggunakan sumber arus tetap, yang dapat menghasilkan arus tetap, berapapun
besarnya hambatan yang dipasang pada keluarannya.
Berikut
adalah gambar rangkaian –y :
Gambar 7 : Rangkaian setara –y
Dari gambar dapat dijelaskan bahwa :
Ii
= yivi + yrv0
I0
= yfvi + y0v0
Keterangan
:
Yi
: Admitasi masukan dengan keluaran terhubung singkat ( V0 = 0 )
Yr
: Admitasi ahli mundur dengan masukan terhubung singkat ( V0 =
0 )
Yf
: Admitasi ahli maju dengan keluaran terhubung singkat ( V0 =
0 )
Y0
: Admitasi keluaran dengan masukan terhubung singkat ( V0 = 0
)
Rangkaian setara –y baik digunakan jika hambatan masukan dan
keluaran keduanya berharga besar seperti pada transistor arus medan ( FET ).
Rangkaian setara Y yang digunakan pada pembahasan penguat frekuensi radio yaitu
berkisar 100 MHZ.
D.
RANGKAIAN SETARA h PADA COMMEN BASE
Pada
Rangkaian setara –h pada masukan menggunakan rangkaian setara Thevenin, dan
keluaran menggunakan rangkaian Norton. Berikut adalah rangkaian setara Thevenin
dan Norton :
a.
Bentuk Rangkaian
Sedangkan
untuk keluarannya menggunakan rangkaian setaran Norton yaitu :
Rangkaian
setara ini terdiri dari sumber tetap IN paralel dengan suatu
hambatan Ro. Bila ujung keluaran Thevenin dan Norton
sama-sama dihubungkan maka arus yang mengalir pada keluaran akan bernilai sama.
Berikut adalah arus keluaran rangkaian Norton :
Sehingga untuk rangkaian setara
parameter –h adalah sebagai berikut :
Gambar 9 :
Rangkaian setara parmeter –h
Dari
gambar dapat dijelaskan bahwa :
vi
= hivi + hrv0
i0
= hfii + h0v0
Keterangan
:
hi
: Admitasi masukan dengan keluaran terhubung singkat ( V0 = 0 )
hr
: Admitasi ahli mundur dengan masukan terhubung singkat ( ii =
0 )
hf
: Admitasi ahli maju dengan keluaran terhubung singkat ( V0 =
0 )
h0
: Admitasi keluaran dengan masukan terhubung singkat (ii = 0 )
II.2.
RANGKAIAN SETARA
TRANSISTOR COMMON EMITTER
(EMITOR DITANAHKAN)
Penguat emitor ditanahkan mempunyai impedansi
masukan
kali lebih besar dari pada penguat basis ditanhkan,
dan impedansi keluaran transistor (1-α )
lebih kecil dari pada penguat basis ditanahkan. Impedansi masukan yang tak
terlelu besar dan impedansi keluaran yang tak terlalu kecil membuat penguat
emitor ditanahkan sangat baik digandengkan dalam beberapa tahap tanpa banyak
ketaksesuaian impedansi pada alih tegangan dari satu tahap ketahap berikutnya.
Pada emitor ditanahkan
isyarat masuk melalui basis dan emitor dihubungkan dengan tanah, sedangkan
keluaran diambil dari kolektor. Emitor ditanahkan mempunyai impedensi masukan lebih
besar daripada basis ditanahkan, dan impedansi keluaran transistor lebih kecil
daripada basis ditanahkan. Berikut adalah gambar emitor ditanahkan :
Gambar 10 :
Penguat emitor di tanahkan dengan catu daya tunggal
Ø Ciri keluaran
Lengkung
ciri statik keluaran transistor jika dihubungkan emitor ditanahkan adalah
seperti berikut :
a.
Sumbu tegak adalah arus kolektor iC, sumbu datar
adalah beda tegangan antara kolektor dan emitor VCE dengan
parameter arus basis iB.
b.
Nisbah , yang mempunyai nilai kira-kira 100, sehingga
arus basis mempunyai nilai kecil. Jika arus kolektor terdapat dalam orde 1 mA,
maka arus basis yang masuk adalah orde puluhan mikro amper.
c.
Jika arus iB = 0, maka iC =
0.
d.
Jika Lengkungan ciri statik masing-masing arus basis iB mempunyai
kemiringan yang benar, yang berarti impedansi keluaran transistor yang
sebanding dengan kebalikan kemiringan lengkungan ciri mempunyai nilai kecil,
makin besar arus basis iB makin besar kemiringannya.
Ø Ciri statik
masukkan
ciri
statik masukan transistor dengan hubungsn emitor ditanahkan.
a.
Sumbu tegak adalah arus basis iB yang
mempunyai nilai dalamA dan sumbu datar adalah VBE.
b.
Pada VCE = 0 arus basis naik dengan cepat
dibandingkan dengan nilai VCE yang lain.
Ø Penguat
Common Emitor mempunyai karakteristik sebagai berikut :
a.
Sinyal outputnya berbalik fasa 180
derajat terhadap sinyal input.
b.
Sangat mungkin terjadi osilasi
karena adanya umpan balik positif, sehingga sering dipasang umpan balik negatif
untuk mencegahnya.
c.
Sering dipakai pada penguat
frekuensi rendah (terutama pada sinyal audio)
d.
Mempunyai stabilitas penguatan yang
rendah karena bergantung pada kestabilan suhu dan bias transistor.
Ø
Karakteristik:
a.
Common emitter memiliki resistansi
input (Ri) dan resistansi output (Ro) yang besar, dan penguatannya cukup besar
tetapi berbeda fasa sebesar π. Ri = Rb Rπ
Ri ≈rπ dan RO = RCRO RO ≈ RC
b.
Common emmiter berfungsi sebagai
penguat tegangan, VO>VI , VO menjadi lebih besar karena melawan
turunnya VOoleh arus beban sehingga keluaran VO tetap.
c. Pada common emmitor arus masukan
(Ii) dan arus keluaran (IO) memiliki arus yang disebut dengan β. β= α1-α dan β=ICIB,
α=ICIE.
A.
RANGKAIAN SETARA T PADA COMMON EMITTER
Gambar 11 : Rangkaian Setara T
untuk transistor dengan hubungan emitor ditanahkan.
Sumber arus terhadap arus masukkan adalah ib1
sehingga hubungan antar ie dan ib yaitu ib yaitu
:
ib = ie – ic = (1-
α) atau ie =
ib
sehingga untuk arus α ie =
ib =
β ib
Jika dipasang suatu
sumber tegangan Vo dan ditarik arus io pada re maka akan
mengalir io yang menyebabkan sumber αio dan arus (1 + α) io mengalir
pada re. Akibatnya :
Vo = (1 - α) io rc + io re
dan
Ro =
= (1 - α) rc
+ re + =
+ re
Sehingga untuk rangkaian setara t untuk transistor
dalam hubungan emitor ditanahkan adalah seperti berikut :
D. RANGKAIAN PARAMETER H PADA COMMON
EMITTER
Gambar : Rangkaian setara parameter –h untuk transistor
emitor ditanahkan
Dari gambar diperoleh
Vi = hie ib + hre
Vo
Ie =
hfe + hoe Vo
Untuk lengkung masukan parameter h tidak banyak dipengaruhi oleh Vce.
II.3 RANGKAIAN SETARA TRANSISTOR
COMMON COLLECTOR ( KOLEKTOR DI TANAHKAN)
Gambar :
Rangkaian Penguat Kolektor ditanahkan
Pada
penguat kolektor ditanahkan, kolektor dihubungkan langsung dengan Vcc.
Isyarat masukan rangkaian ini melalui basis, dan emitor dihubungkan dengan
suatu hambatan kepada tanah, sedangkan keluaranya diambil emitor. Penguat
kolektor ditanahkan juga disebut pengikut emitor (emitter-fllower). Pengikut
emitor mempunyai penguat tegangan kurang dari satu, dan mempunyai impedansi
masukkan tinggi, dan impedansi keluaran rendah.
Gambar 12 : Rangkaian setara penguat
kolektor ditanahkan dengan parameter –h
Yang
perlu diperhatikan pada penguat kolektor ditanahkan untuk parameter h adalah Tegangan isyarat
masukkannya yaitu :
Vi = ib hie
+ ( 1 + hef ) ib ( Re //
)
BAB
III
PENUTUP
III.1
SIMPULAN
1. Karakteristik
masukan transistor basis ditanahkan mempunyai bentuk kurva yang sama dengan
karakteristik dioda dicatu maju, dengan kemiringan
kali lebih
besar dari common emitor, dengan nilai VCB yang berbeda-beda sudut
kemiringannya semakin besar.
2. Dari grafik
karakteristik masukan transistor basis ditanahkan dengan VCB yang
berbeda-beda dapat diperoleh nilai hib (impedansi masukan
dengan keluaran terhubung singkat vo=0) dan hrb
(nisbah tegangan balik dengan masukan terbuka ii=0).
3. Dari grafik
karakteristik keluaran transistor basis ditanahkan dengan IE yang
berbeda-beda dapat diperoleh nilai hfb (nisbah arus maju
dengan keluaran terhubung singkat vo=0) dan hob
(admitansi keluaran dengan masukan terbuka ii=0). Dengan
sudut kemiringan yang sangat kecil (sangat horizontal), dengan IC
berbanding lurus dengan IE, dikatakan transistor dwikutub suatu
piranti yang dikendalikan oleh arus.
4. Karakteristik
transistor basis ditanahkan jika kita bandingkan dengan transistor emitor
ditanahkan. Common basis mempunyai hambatan masukan
kali lebih
kecil, dan hambatan keluaran
kali lebih
besar.
5. Common emitter memiliki resistansi input (Ri) dan
resistansi output (Ro) yang besar, dan penguatannya cukup besar tetapi berbeda
fasa sebesar π. Ri = Rb Rπ Ri ≈rπ dan
RO = RCRO RO ≈ RC.
6. Common emmiter berfungsi sebagai penguat tegangan,
VO>VI , VO menjadi lebih besar karena melawan turunnya VOoleh arus
beban sehingga keluaran VO tetap.
7. Pada common emmitor arus masukan (Ii) dan arus
keluaran (IO) memiliki arus yang disebut dengan β. β= α1-α dan β=ICIB,
α=ICIE.
8. Pada penguat kolektor
ditanahkan, kolektor dihubungkan langsung dengan Vcc. Isyarat
masukan rangkaian ini melalui basis, dan emitor dihubungkan dengan suatu
hambatan kepada tanah, sedangkan keluaranya diambil emitor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar